Mahfud: Saya Pastikan Quran Sebagai Kitab Suci Bukan Fiksi, Tak Peduli Rocky Gerung Bilang Apa


 Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD kembali menegaskan pernyataannya terkait 'kitab suci adalah fiksi' yang pernah dilontarkan oleh Rocky Gerung.

Pantauan TribunWow.com, hal itu tampak dari unggahan akun Twitternya pada Sabtu (14/4/2018).

Awalnya, Mahfud MD menuliskan postingan tentang dirinya yang menjadi tenteram setelah membaca Quran.

Ia kemudian menambahkan jika itu berbeda ketika dirinya membaca karya fiksi Harry Potter. Mahfud MD mengaku optimis dan penuh harap setelah membaca Quran.

@mohmahfudmd: Ya Allah, Alangkah tenteram hati hamba ini stlh bertahajjud dan membaca Qur'an kitab suci-Mu di tengah malam ini.

Berbeda dgn membaca fiksi spt karya Harry Potter, stlh membaca kitab suci-Mu hati hamba menjadi hangat, ingin Istiqomah, optimis, dan penuh harap akan berkah-Mu.

Postingan tersebut kemudian dikomentari oleh @utieh07 yang mengungkapkan jika secara tak langsun Mahfud MD menyindir Rocky Gerung.

@utieh07: @mohmahfudmd bearti secara tdk lansung anda menuduh @rockygerung menyebutkan kitab suci fiksi itu al qur'an.




Menanggapi hal tersebut, Mahfud MD kemudian menyatakan jika dirinya memastikan jika Quran sebagai kitab suci bukanlah fiksi.

Mahfud mengatakan, Quran merupakan wahyu Tuhan, sedangkan fiksi hanyalah angan-angan. Ia juga mengatakan jika dirinya tak peduli dengan omongan Rocky Gerung.

@mohmahfudmd: Saya pastikan, Qur’an sbg kitab suci bkn fiksi. Qur’an itu wahyu Tuhan, fiksi itu produk angan2 manusia. Yg satu dari atas, yg satu dari bawah. Itu sdh sy cuitkan dan sdh viral sejak Kamis lalu. Sy tak perduli @rockygerung bilang apa, itu sdh ada yg ngurus.




Lebih lanjut, Mahfud MD kemudian menyebutkan jika berifikir fiksional dari wahyu itu boleh, karena itu memosisikan wahyu sebagi fiksi.

@mohmahfudmd: Berfikir fiksional dari wahyu itu boleh krn hal itu tak memosisikan wahyu sbg fiksi.

Misal, roman Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Hamka, kisahnya adl fiksi tetapi pesannya ttg ajaran doa dan kejujuran diambil dari wahyu atau firman yg bukan fiksi.

Apa masalahnya? Ayo, jalan.

Postingan tersebut kemudian mendapat komentar dari warganet yang menganalogikan dan memaknai fiksi.

@didi_405: Misal prof, KL ada org sebut it BATU palsu ..Kan kita jg ga tau batu ap yg di maksud scra spesifikasinya ! Krn BATU bermacam"
-Batu bata
-Batu koral
-Batu Akik
-Batu permata
-DLL ..
Itu pendapat saya pribadi memaknai fiksi ... Salam

@mohmahfudmd: Kalau itu sih contohnya @didi_405 tentu benar.

Coba kalau begini: Pabrik2 marmer di Tulung Agung itu memproduk batu marmer palsu.

Apakah semua pabrik marmer di Tulung Agung tidak boleh menggugat? Boleh, dong.

@MohArifWidarto: Di @ILC_tvOnenews itu @rockygerung menyebut bahwa kitab suci yang dia maksud adalah kitab suci agamanya.

Itu ketika Akbar Faisal mengejar terus. Coba tonton videonya supaya tidak usah beranalogi, Prof. Dalam hukum pidana tidak boleh dipakai analogi.

@mohmahfudmd: Ya, dalam hukum pidana tak boleh menggunakan penafsiran analogis. Tapi kan boleh pakai tafsir ekstensif.

Ada bnyk cara penafsiran: grammatik, historis, sosiologis, teleologis, ekstensif, analogis, sistematis, dll.

Kan, tinggal dilihat konteksnya, ya.




Subscribe to receive free email updates: