PPP: Jangan Remehkan Kekuatan Prabowo di 2019


Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto telah mendeklarasikan diri sebagai capres di 2019. Prabowo dan Gerindra saat ini tengah fokus membentuk koalisi agar bisa memenuhi syarat presidential threshold di Pilpres 2019.

Menanggapi hal itu, Ketua Umum PPP Romahurmuziy mengatakan, pertarungan capres yang sepertinya akan mengulang laga Prabowo vs Jokowi di 2014 tidak boleh dianggap enteng. Sebab, meremehkan lawan malah dapat mengalahkan diri sendiri.

“Dalam pertarungan dua kutub seperti ini, kita harus menganggap lawan itu kuat. Karena kalau kita menganggap lawan itu lemah, biasanya kita akan berleha-leha lalu kemudian kita terlena,” kata Romy, sapaan akrab Romahurmuziy, saat ditemui di Kantor PP Muhammadiyah, Menteng Raya, Jakarta Pusat, Kamis (12/4).


Romy menganggap kekuatan politik Prabowo harus diantisipasi oleh kekuatan koalisi Jokowi. Romy mencontohkan kekuatan politik Prabowo pada Pilpres 2014 lalu, setidaknya terdapat 10 provinsi yang dimenangkan Prabowo.

“Karena itu kami tidak ingin terlena dan mendorong tetap mengantisipasi, karena di 2014 yang lalu, 10 provinsi Pak Jokowi belum mendapatkan kemenangan, dan ada 161 kabupaten/kota yang di sana itu kalah,” paparnya.


Menurut Romy, kekuatan koalisi pendukung Jokowi saat ini harus semakin kuat. Sebagai salah satu partai pendukung Jokowi, PPP akan gencar menyosialisasikan kerja nyata yang sudah dilakukan Jokowi saat ini.

“Karena itu, saya terus mendorong agar apa-apa yang sudah menjadi kerja konkret Pak Jokowi ini disosialisakan ke seluruh daerah, terutama yang dulu masih mendapatkan kekalahan untuk menunjukkan ini loh kerja nyatannya (Jokowi),” tutup Romy.

Saat ini, Jokowi didukung oleh koalisi PDIP, Golkar, NasDem, PPP, Hanura untuk maju di Pilpres 2019. PKB juga memberikan dukungan Jokowi tapi dengan syarat harus memilih Muhaimin Iskandar sebagai cawapres. [opini-bangsa.com / kumparan]

Subscribe to receive free email updates: