Tak Sekadar Merakyat, Beginilah Gaya Memimpin Umar bin Khattab


 Gaya kepemimpinan Presiden Joko Widodo memang banyak mengundang kontroversi. Mulai dari blusukan hingga pencitraan tidak lepas dari pro dan kontra. Hingga akhir-akhir ini, ketua DPP PDI-P Bidang Kemaritiman, Rokhmin Dahuri, memberikan penilaian bahwa Jokowi merupakan sosok yang mirip Umar bin Khattab. Alasannya sederhana, Jokowi dan Umar memiliki kesamaan dalam mendekati rakyat. Untuk menimbang benar dan salahnya pernyataan ini, kita bisa melihat dalam sejarah bagaimana kedekatan Umar dengan rakyatnya.

Umar bin Khattab adalah sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak diragukan iman dan ketakwaannya. Selain itu, beliau ini adalah shahabat yang dijamin masuk surga. Maka, tidak salah jika umat Islam membanggakan figur Umar bin Khattab.

Prinsip Umar bin Khattab dalam Kepemimpinannya

Umar bin Khattab adalah orang yang tegas dalam memimpin Negara. Tentunya dalam kepemimpinannya beliau memiliki prinsip yang menjadi pegangan. Diantaranya adalah prinsip beliau dalam menyikapi rakyatnya yang sangat jarang ditemukan pada jati diri pemimpin hari ini.

Prinsip beliau dalam menyikapi rakyatnya sebagaimana dijelaskan dalam kitab al-Bidayah wa an-Nihayah, Umar bin al-Khattab pernah mengatakan :

بِئْسَ الْوَالِي أَنَا إِنْ شَبِعْتُ وَالنَّاسُ جِيَاعٌ

“Akulah sejelek-jelek kepala negara apabila aku kenyang sementara rakyatku kelaparan.” (Al-Bidayah wa an-Nihayah, 7/135)

Beliau mengatakan ini pada masa paceklik, saat itu beliau hanya makan roti dan minyak sehingga kulitnya hitam.

Apakah ada pemimpin hari ini yang melakukan apa yang dilakukan oleh Umar? Beliau tidak hanya berbicara, namun juga membuktikannya dalam perbuatan.

Beliau mendahulukan urusan rakyatnya daripada kepentingannya sendiri. Maka, wajarlah jika beliau adalah pemimpin umat Islam yang dekat dengan rakyatnya.

Blusukan Hanya dengan Satu Pengawal

Di samping itu, beliau juga menaruh perhatian yang besar terhadap rakyatnya. Beliau ingin tahu kondisi rakyatnya, namun tidak ingin rakyatnya mengetahui apa yang dilakukannya. Untuk itu beliau keliling desa malam hari hanya dengan satu pengawal.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Fadhail ash-Shahabah bahwa Aslam radhiyallahu ‘anhu bercerita :

خَرَجْنَا مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ إِلَى حَرَّةَ وَاقِمٍ، حَتَّى إِذَا كُنَّا بِصِرَارٍ إِذَا نَارٌ، فَقَالَ: يَا أَسْلَمُ ، إِنِّي لَأَرَى هَا هُنَا رَكْبًا قَصَّرَ بِهِمُ اللَّيْلُ وَالْبَرْدُ، انْطَلِقْ بِنَا، فَخَرَجْنَا نُهَرْوِلُ حَتَّى دَنَوْنَا مِنْهُمْ، فَإِذَا بِامْرَأَةٍ مَعَهَا صِبْيَانٌ صِغَارٌ وَقِدْرٌ مَنْصُوبَةٌ عَلَى نَارٍ وَصِبْيَانُهَا يَتَضَاغَوْنَ، فَقَالَ عُمَرُ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ يَا أَصْحَابَ الضَّوْءِ، وَكَرِهَ أَنْ يَقُولَ: يَا أَصْحَابَ النَّارِ، فَقَالَتْ: وَعَلَيْكَ السَّلَامُ، فَقَالَ: أَدْنُو؟، فَقَالَتِ: ادْنُ بِخَيْرٍ أَوْ دَعْ، فَدَنَا فَقَالَ: مَا بَالُكُمْ؟ قَالَتْ: قَصَّرَ بِنَا اللَّيْلُ وَالْبَرْدُ، قَالَ: فَمَا بَالُ هَؤُلَاءِ الصِّبْيَةِ يَتَضَاغَوْنَ؟ قَالَتِ: الْجُوعُ، قَالَ: فَأَيُّ شَيْءٍ فِي هَذِهِ الْقِدْرِ؟ قَالَتْ: مَا أُسْكِتُهُمْ بِهِ حَتَّى يَنَامُوا، وَاللَّهُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ عُمَرَ، فَقَالَ: أَيْ رَحِمَكِ اللَّهُ، وَمَا يُدْرِي عُمَرَ بِكُمْ؟ قَالَتْ: يَتَوَلَّى عُمَرُ أَمْرَنَا ثُمَّ يَغْفُلُ عَنَّا.

“Suatu malam aku keluar bersama Umar bin Al-Khattab Radhiyallahu ‘anhu ke dusun Waqim. Ketika kami sampai di Shirar kami melihat ada api yang dinyalakan. Umar Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Wahai Aslam Radhiyallahu ‘anhu di sana ada musafir yang kemalaman, mari kita ke sana menemui mereka.” Kami segera mendatangi mereka dan ternyata di sana ada seorang wanita bersama anak-anaknya sedang menunggui periuk yang diletakkan di atas api, sementara anak-anaknya menangis. Umar Radhiyallahu ‘anhu bertanya: “Assalamu ‘alaiki wahai pemilik api.” Wanita itu menjawab: “Wa alaikas salam.” Umar Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Kami boleh mendekat?” Dia menjawab: “Terserah kalian!” Umar Radhiyallahu ‘anhu segera mendekat dan bertanya: “Ada apa gerangan dengan kalian?” Wanita itu menjawab: “Kami kemalaman dalam perjalanan serta kedinginan.” Umar Radhiyallahu ‘anhu kembali bertanya: “Kenapa anak-anak itu menangis?” Wanita itu menjawab: “Karena lapar.” Umar Radhiyallahu ‘anhu kembali bertanya: “Apa yang engkau masak di atas api itu?” Dia menjawab: “Air agar aku dapat menenangkan mereka hingga tertidur. Dan Allah Azza wa Jalla kelak yang akan jadi hakim antara kami dengan Umar Radhiyallahu ‘anhu ” (Fadhail ash-Shahabah, 1/290)

Umar bin Khattab keliling desa pada malam hari dengan satu pengawal, ini menunjukkan bahwa Umar tidak ingin perbuatannya diketahui rakyatnya. Terbukti bahwa Ibu dari anak-anak itu tidak mengenal Umar, padahal Umar adalah pemimpin Negara. Bahkan Ibu tersebut terus terang akan kelalaian Umar, sedang Umar sebagai penguasa Negara ada di hadapannya.

Beliau tidak marah karena beliau memaklumi bahwa masalah perut adalah masalah yang sangat sensitif. Rasa lapar bisa membuat manusia kehilangan pertimbangan dan akal sehat. Banyak kejahatan-kejahatan terjadi hanya gara-gara urusan perut. Terlebih pemerintah tidak memperhatikan kecukupan pangan rakyatnya.

Sendiri Memikul Beban untuk Rakyatnya

Setelah mendengar aduan dari ibu itu, apakah Umar akan menyuruh pengawalnya untuk mengambilkan sembako bagi ibu itu? Atau akan memanggil pasukan keamanan untuk menghukum ibu yang telah melecehkan dirinya di hadapannya?

Aslam melanjutkan kisahnya :

قَالَ: فَأَقْبَلَ عَلَيَّ فَقَالَ: انْطَلِقْ بِنَا، فَخَرَجْنَا نُهَرْوِلُ حَتَّى أَتَيْنَا دَارَ الدَّقِيقِ، فَأَخْرَجَ عِدْلًا مِنْ دَقِيقٍ وَكَبَّةً مِنْ شَحْمٍ، فَقَالَ: احْمِلْهُ عَلَيَّ، فَقُلْتُ: أَنَا أَحْمِلُهُ عَنْكَ، قَالَ: أَنْتَ تَحْمِلُ عَنِّي وِزْرِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا أُمَّ لَكَ؟ فَحَمَلْتُهُ عَلَيْهِ فَانْطَلَقَ، وَانْطَلَقْتُ مَعَهُ إِلَيْهَا، نُهَرْوِلُ، فَأَلْقَى ذَلِكَ عِنْدَهَا وَأَخْرَجَ مِنَ الدَّقِيقِ شَيْئًا، فَجَعَلَ يَقُولُ لَهَا: ذُرِّي عَلَيَّ، وَأَنَا أُحَرِّكُ لَكِ، وَجَعَلَ يَنْفُخُ تَحْتَ الْقِدْرِ ثُمَّ أَنْزَلَهَا، فَقَالَ: أَبْغِينِي شَيْئًا، فَأَتَتْهُ بِصَحْفَةٍ فَأَفْرَغَهَا فِيهَا ثُمَّ جَعَلَ يَقُولُ لَهَا: أَطْعِمِيهُمْ وَأَنَا أُسَطِّحُ لَهُمْ، فَلَمْ يَزَلْ حَتَّى شَبِعُوا، وَتَرَكَ عِنْدَهَا فَضْلَ ذَلِكَ، وَقَامَ وَقُمْتُ مَعَهُ، فَجَعَلَتْ تَقُولُ: جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا، كُنْتَ أَوْلَى بِهَذَا الْأَمْرِ مِنْ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ، فَيَقُولُ: قُولِي خَيْرًا إِذَا جِئْتِ أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، وَحَدَّثِينِي هُنَاكَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ، ثُمَّ تَنَحَّى نَاحِيَةً عَنْهَا ثُمَّ اسْتَقْبَلَهَا فَرَبَضَ مَرْبَضًا، فَقُلْنَا لَهُ: إِنَّ لَنَا شَأْنًا غَيْرَ هَذَا، وَلَا يُكَلِّمُنِي حَتَّى رَأَيْتُ الصِّبْيَةَ يَصْطَرِعُونَ ثُمَّ نَامُوا وَهَدَأُوا.

“Maka Umar Radhiyallahu ‘anhu menangis dan segera berlari pulang menuju gudang tempat penyimpanan gandum. Ia segera mengeluarkan sekarung gandum dan satu ember daging, sambil berkata: “Wahai Aslam Radhiyallahu ‘anhu naikkan karung ini ke atas pundakku.” Aslam Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Biar aku saja yang membawanya.” Umar Radhiyallahu ‘anhu menjawab: “Apakah engkau mau memikul dosaku kelak di hari Kiamat?” Maka ia segera memikul karung tersebut di atas pundaknya dan kembali mendatangi tempat wanita itu. Setelah meletakkan karung tersebut ia segera mengeluarkan gandum dan memasukkannya ke dalam periuk. Setelah itu ia memasukkan daging ke dalamya. Umar Radhiyallahu ‘anhu berusaha meniup api di bawah periuk hingga asap menyebar di antara jenggotnya untuk beberapa saat. Setelah itu Umar Radhiyallahu ‘anhu menurunkan periuk dari atas api dan berkata: “Berikan aku piring kalian!”. Setelah piring diletakkan Umar Radhiyallahu ‘anhu segera menuangkan isi periuk ke dalam piring itu dan menghidangkannya kepada anak-anak wanita itu dan berkata: “Makanlah.” Maka anak-anak itupun makan hingga kenyang. Wanita itu berdoa untuk Umar Radhiyallahu ‘anhu agar diberi ganjaran pahala sementara dia sendiri tidak mengenal Umar Radhiyallahu ‘anhu.” (Fadhail ash-Shahabah, 1/290)

Ternyata diluar dugaan pengawalnya, Umar bin al-Khattab memikulnya sendiri karung gandum itu. Bukankah beliau pemimpin Negara? Apakah beliau tidak punya pengawal? Dalam urusan tanggung jawab, beliau sangat paham bahwa kedudukannya akan dipertanggung-jawabkan sendiri di hadapan Allah ta’ala.

Bahkan beliau melakukannya dengan cepat-cepat, takut akan mengecewakan rakyatnya. Apakah tidak bisa dilakukan besok? Padahal malam itu gelap dan dingin? Karena rasa takutnya, beliau tidak ingin lalai terhadap tanggung-jawabnya untuk kedua kalinya. Keinginan untuk segera menyelesaikan problem rakyatnya lebih diutamakan daripada kondisi dirinya.

Perhatiannya pada Rakyat Sangat Besar

Tidak sampai di situ, Umar bin al-Khattab menemani mereka hingga tertidur. Aslam melanjutkan kisahnya :

فَقَالَ: يَا أَسْلَمُ، إِنَّ الْجُوعَ أَسْهَرَهُمْ وَأَبْكَاهُمْ، فَأَحْبَبْتُ أَنْ لَا أَنْصَرِفَ حَتَّى أَرَى مَا رَأَيْتُ.

“Umar masih bersama mereka hingga anak-anak itu tertidur pulas. Setelah itu Umar Radhiyallahu ‘anhu memberikan nafkah kepada mereka, lalu ia pulang. Umar Radhiyallahu ‘anhu berkata kepadaku: “Wahai Aslam Radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya rasa laparlah yang membuat mereka tidak dapat tidur.” (Fadhail ash-Shahabah, 1/290)

Sungguh Umar bin Khattab adalah teladan yang sangat agung dan mulia, jauh dari figur pemimpin-pemimpin hari ini. Umar radhiyallahu ‘anhu tidak hanya mencukupi kebutuhan pangan rakyatnya, bahkan beliau tidak malu-malu dan segan-segan menjadi pelayan bagi rakyatnya. Beliau terjun langsung melayani rakyat karena menyadari bahwa itu tanggung jawab yang akan ditanyakan oleh Sang Maha Kuasa. Wallahu ‘alam bish showab… [b-islam24h.com / kiblat]

Subscribe to receive free email updates: