Ancaman Mengerikan Trump, Rudal-rudal Akan Hantam Suriah

Loading...

 Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyebut bahwa Rusia harus "bersiap" atas rudal-rudal yang akan diluncurkan ke Suriah guna merespons dugaan serangan kimia dekat Damaskus, Sabtu (07/04) lalu.

"Bersiaplah Rusia karena mereka akan datang datang, bagus dan baru dan `pintar!`" cuit Trump.

Sebelum melontarkan pernyataan di Twitter, Trump diketahui membatalkan kunjungan perdananya ke Amerika Latin agar dia bisa berfokus pada Suriah.

Keputusan itu mengisyaratkan bahwa AS mungkin tengah menyiapkan operasi militer yang lebih besar ketimbang serangan terbatas, sebut wartawan BBC di Washington DC, Barbara Plett Usher.

Akan tetapi, setelah Trump merilis cuitannya, sejumlah pejabat Gedung Putih justru memilih berhati-hati dalam berucap.

Menteri Pertahanan, James Mattis, mengatakan AS masih meninjau dugaan serangan kimia di Douma dan militer AS bersiaga "untuk menyediakan opsi militer jika dipandang pantas sebagaimana diputuskan presiden".

Kemudian, juru bicara Gedung Putih, Sarah Sanders, mengatakan keputusan akhir belum dibuat dan "semua pilihan ada di atas meja".

Secara terpisah, Presiden Prancis, Emmanuel Macron, mengungkap bahwa kalaupun serangan terjadi, serangan itu akan menargetkan "kemampuan kimia rezim" pemerintah Suriah.

Di Inggris, sejumlah sumber mengatakan kepada BBC bahwa Perdana Menteri Theresa May tampak siap bergabung dalam aksi militer di Suriah tanpa meminta izin parlemen.

Saat ini kapal Angkatan Laut AS yang memiliki roket kendali, USS Donald Cook, berada di perairan Laut Mediterania dan badan pengendali lalu lintas udara di Eropa, Eurocontrol, telah memperingatkan semua maskapai yang menerbangkan pesawat di bagian timur Mediterania agar waspada mengingat ada kemungkinan peluncuran rudal ke Suriah.

Laporan lain menyebutkan kapal-kapal perang Rusia telah bertolak dari pangkalan Angkatan Laut di pelabuhan Tartus, Suriah.

Penolakan Rusia

Dari Rusia, sejumlah pejabat telah mendesak Barat untuk menghentikan rencana aksi militer ke Suriah.

Utusan Rusia untuk PBB, Vasily Nebenzia, menegaskan Washington DC akan "memikul tanggung jawab" untuk setiap "petualangan militer secara ilegal".

Pada Rabu (11/04), Duta Besar Rusia untuk Lebanon, Alexander Zasypkin, mengulangi ancaman bahwa setiap rudal yang mengancam personel Rusia akan ditembak jatuh dan lokasi peluncurannya akan disasar.

Masih pada hari yang sama, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, bertanya apakah rencana serangan Barat bertujuan "menghapus sisa-sisa provokasi secara cepat...(sehingga) para pengawas internasional tidak bisa mendapat bukti apa-apa".


Dugaan serangan kimia di Suriah mengakibatkan anak-anak menjadi korban. - AFP

Sejumlah pegiat oposisi Suriah, pekerja medis, dan relawan gawat darurat menuduh serangan di Douma pada 7 April lalu dilakukan pasukan pemerintah menggunakan bom berisi zat kimia beracun.

Komunitas Medis Suriah-Amerika mengklaim ada lebih dari 500 orang yang dibawa ke pusat medis dengan gejala "indikasi terpapar zat kimia".

Gejala itu meliputi kesulitan bernapas, kulit membiru, mulut berbusa, luka bakar, dan aroma "seperti bau klorin".

Perkiraan jumlah korban tewas akibat dugaan serangan kimia berkisar antar 42 orang hingga 60 orang. Namun, relawan medis mengatakan jumlah itu bisa jadi lebih banyak lantaran regu penyelamat kesulitan mengakses ruang bawah tanah yang dipakai sejumlah keluarga sebagai tempat berlindung dari pengeboman. [opini-bangsa.com / viva]

Subscribe to receive free email updates: