PSI: Utang Solusi Efisien Tutupi Kekurangan Modal

Loading...

Dalam dunia bisnis utang adalah hal biasa, bahkan menjadi suatu keniscayaan yang tak bisa dihindari.Begitu kata Jurubicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) bidang Ekonomi dan Bisnis, Rizal Calvary Marimbo menanggapi perkembangan mengenai polemik utang negara di tengah masyarakat. 

Kata dia, masyarakat yang masih salah kaprah soal utang pemerintah. Kondisi ini kemudian dimanfaatkan pihak-pihak yang ingin menyerang Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Tolong carikan pengusaha sukses di muka planet bumi ini yang tidak berhutang diawalnya. Dan carikan juga negara besar dan kaya raya serta sejahtera yang tidak punya utang diawalnya," tantang Rizal dalam keterangan tertulisnya, Rabu (11/4).

Rizal menguraikan bahwa utang merupakan cara paling efisien menutupi kekurangan modal usaha. Utang bisa membuat pengusaha membuat terobosan untuk membuat lompatan besar dari sisi aset dan kekayaan, serta kesejahteraan. 

"Demikian juga dalam mengelola negara," sambungnya.

Dia kemudian menguraikan mengenai kondisi utang Indonesia. Kata dia, pembangunan infrastruktur Indonesia periode 2014 hingga 2019 membutukan dana Rp 5.000 triliun. Dana sebesar itu tentu tidak bisa dipenuhi melalui anggaran dari APBN.

"Suka tidak suka, kita harus ngutang untuk menambal anggaran. Kecuali kita tidak ingin membangun," beber dia.

Terpenting dari utang ini adalah ekonomi nasional mampu menopang beban. Rasio antara produk domestik bruto (PDB) dengan besaran utang menjadi patokan kemampuan negara berutang,

Pada era Orde Baru, jelasnya, utang pemerintah hanya Rp 551,4 triliun. Namun, rasionya mencapai 57,7 persen dari PDB. Jika dilihat kasat mata, utang warisan Orde Baru terbilang kecil. 

"Tapi sejatinya, utang sekecil itu sudah cukup merontokan perekonomian nasional pada 1998," tutur Rizal.

Kini di era Jokowi, meski utang pemerintah sudah mencapai Rp 4.849 triliun, rasio dengan PDB terbilang kecil yakni 27 persen.

"Rasio ini jauh dari batas yang ditetapkan UU, yakni sebesar 60 persen dari PDB," terangya.

"Jadi selama risiko rendah dan tujuannya untuk hal produktif, maka utang adalah pilihan yang paling efisien," tukasnya. [ian]

Subscribe to receive free email updates: