Soal Obor Rakyat, Ini Pernyataan Tegas Fadli Zon untuk Rommy

Loading...

 Ketua Umum PPP Romahurmuziy (Rommy) blak-blakan soal Obor Rakyat, tabloid kontroversial yang terbit di tahun politik jelang Pilpres 2014. Rommy menyebut Obor Rakyat merupakan pendukung lepas Prabowo-Hatta.

Wakil Ketua Umum Gerindra, Fadli Zon menyebut tindakan Rommy yang tidak melaporkan saat mengetahui adanya pelanggaran hukum merupakan sebuah tindak pembiaran. Rommy, kata Fadli Zon, dapat dikategorikan melakukan crime by ommision atau kejahatan melalui tindakan pembiaran.

"Kalau dia tahu dan dia tidak bicara itu crime by ommision. Berarti dia membiarkan terjadinya pelanggaran hukum. Kalau dia tahu. Ya kan. Itu kan crime by ommision," ujar Fadli, di DPR, Senayan, Jakarta Selatan, Selasa (17/4/2018).

Rommy, kata Fadli, seharusnya melaporkan tindakan Obor Rakyat kepada aparat penegak hukum.

"Kalau dia tahu dia ngomong dong," katanya.

Ia pun mempertanyakan maksud dan tujuan Rommy yang membuka persoalan tersebut saat ini. Padahal, kasus Obor Rakyat sudah diproses hukum.

"Ya saya nggak tahu ya. Yang dia maksud itu apa siapa dan itu juga udah peristiwa 4 tahun yang lalu. Dan sudah ada proses pengadilan dan sebagainya," pungkas Fadli.


Sebelumnya, Rommy berbicara dalam sambutan di Munas Alim Ulama PPP di Hotel Patrajasa Semarang, Jawa Tengah, Jumat (13/4) kemarin.

Rommy menceritakan, pada masa kampanye Pilpres 2014 dirinya masih menjabat Ketua Divisi Strategi Kampanye Prabowo-Hatta, karena PPP masih masuk dalam Koalisi Merah Putih.

Ketika itu banyak masukan mulai dari yang produktif hingga provokatif. Beberapa hal yang provokatif yaitu Jokowi keturunan Tionghoa dan aktivis PKI. Isu itu ternyata sudah dibuat dalam bentuk cetak bernama Obor Rakyat.

"Di antara pemikiran provokatif itu adalah bahwa Pak Jokowi adalah anak seorang Tionghoa bernama Oey Hong Liong dan dia adalah aktivis PKI. Itu dibukukan dalam satu tabloid bernama Obor Rakyat," kata Rommy.

Bahkan Rommy diminta untuk mengedit tabloid tersebut namun langsung ditolak karena setelah membaca kontennya ia merasa kalau itu adalah fitnah.

"Saya mengatakan ini fitnah. Kalau nanti Prabowo tidak menang, kita bakal dapat masalah. Maka saya tidak mau melakukan koreksi," kata Rommy.

Meski tanpa koreksi dari Rommy, tabloid itu sudah diproduksi sebanyak 1 juta eksemplar kemudian disebar ke 28 ribu pondok pesantren dan 724 ribu Masjid.

"Saya berada di jantung pertarungan itu dan saya baru cerita kali ini," ujar Rommy.

Rommy menambahkan, kini PPP berusaha meluruskan hoax yang sudah ditelan oleh masyarakat itu, Klarifikasi terus dilakukan termasuk di hadapan para ulama karena fitnah-fitnah itu merupakan pembunuhan karakter untuk Jokowi.

"Terus berusaha kita luruskan dan klarifikasi. Karena itu betul karakter assassinantion kepada Pak Jokowi," tegas Rommy. [opini-bangsa.com / detik]

Subscribe to receive free email updates: