Abu Tholut Sebut Banyak Napi Teroris Stres di Mako Brimob

Loading...
Kondisi Rutan Mako Brimob Kelapa Dua Depok dinilai membuat banyak narapidana mengalami stres.

Abu Tholut, seorang mantan napi teroris mengaku tak heran kerusuhan yang terjadi di Mako Brimob Depok pada Selasa (8/5) lalu. Dia menjelaskan bila stres dan meluapnya emosi napi teroris di Rutan Mako Brimob justru sering disebabkan karena hal-hal yang kecil.

Diantaranya, lamanya pemeriksaan makanan dari keluarga, susahnya keluar sel untuk sekadar berolah raga, sulitnya menikmati sinar matahari hingga susahnya menjemur cucian pakaian diluar sel.

"Saya bisa katakan stres. Kalau kita mau jemur pakaian tidak boleh. Padahal menjemur di dalam ruang sel tidak bisa kering total dan pakaian berjamur dan bau, kalau dipakai gatal. Belum lagi kalau dapat kiriman makanan dari keluarga, pastinya diperiksa, tapi prosesnya lama", kata Abu Tholut kepada CNNIndonesia.com, Jumat (11/5).

Mantan Ketua Mantiqi III Jamaah Islamiyah (JI) ini juga menganggap bila Rutan Mako Brimob tidak layak untuk penjara napi terorisme.

Ukuran ruang tahanan yang terlalu kecil dengan ukuran 2x4 meter dihuni 3 hingga 5 orang napi membuat kondisi ruangan tidak sehat. Lebih parah lagi, mereka yang sudah divonis di pengadilan, tidak kunjung juga dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas).

"Kondisi ruangan tidak sehat. Jumlah tahanan dan napi terus bertambah, dan yang lucu itu ada yang sudah divonis Pengadilan tapi tidak kunjung dipindah ke Lapas. Ya sudah, pastinya tambah ramai", tambah pria yang memiliki nama asli Musthofa ini.

Abu Tholut mengenang saat dirinya mendekam di Rutan Mako Brimob pada 2010 hingga 2012 silam. Menurut dia Rutan Mako Brimob dibagi dalam tiga Blok yakni Blok A, B dan C.

Namun, pembagian ketiga blok tidak jelas kriterianya dan cenderung asal dicampur. Dia mengaku janggal karena sangat sedikit petugas dari Kementerian Hukum dan HAM yang ada di Rutan Mako Brimob.

"Tidak ada itu petugas Kemenkumham, semua Brimob, dari Polri. Dari kunjungan keluarga saja, dijaga semuanya Polisi, meski itu Polwan. Sangat jarang petugas Kemenkumham terlihat disana", ujar Tholut.

Abu Tholut pernah menempuh pendidikan militer di Afganistan pada tahun 1987-1988. Setelah bergabung di JI bersama Abdulah Sungkar, Abu Tholut berangkat ke Moro, Filipina selama 2 tahun. Di tahun 2003, Abu Tholut menjadi otak bom Atrium Senen Jakarta dan Hotel J.W.Marriot.

Abu Tholut juga menjadi pemimpin pelatihan militer teroris di Aceh dan otak perampokan CIMB Niaga di Medan. [b-islam24h.com / cnn]

Subscribe to receive free email updates: