Jadi Perdana Menteri, Mahathir Langsung Tabuh Genderang Perang Terhadap Korupsi di Malaysia

Loading...

Genderang perang melawan korupsi langsung ditabuh Perdana Menteri baru Malaysia Mahathir Mohamad di awal pemerintahannya.

Perang melawan korupsi itu dimulainya dari menyelidiki dugaan korupsi di lembaga-lembaga pemerintah.

Ketika ditanya apakah akan ada perombakan antara kepala badan pemerintah, Mahathir menegaskan sanksi tegas hukum akan diterapkan kepada mereka yang ditemukan terlibat korupsi.

Dia mengatakan bahwa ia akan terjun langsung bersama Jaksa Agung (AG) Mohamed Ali Apandi, Ketua Komisi Pemilihan Umum (EC) Mohd Hashim Abdullah, dan Komisi anti korupsi Komisi Malaysia (MACC).

"Niat kita adalah untuk membersihkan orang-orang yang telah menunjukkan kecenderungan untuk menjadi korup atau yang telah melakukan tindakan-tindakan korup," kata Mahathir dalam konferensi pers setelah pertemuan Dewan Presiden Pakatan Harapan, Jumat (11/5/2018), sehari setelah disumpah jadi PM Malaysia.

"Yang salah akan dihukum," cetusnya.

Mahathir pun menegaskan pemerintah akan menilai apakah MACC adil atau tidak dalam menangani kasus korupsi.

"Jika kita menemukan bahwa mereka yang bias atau mendukung kelompok koruptor, termasuk diri kita sendiri, kita akan mencopot dan mengganti mereka," katanya.

Ia juga menambahkan bahwa kepala baru dari instansi pemerintah akan diangkat oleh Parlemen.

Mahathir Mohamad resmi dilantik sebagai perdana menteri ketujuh Malaysia pada Kamis malam (10/5/2018) waktu setempat.

Dia mengucapkan sumpah di hadapan Raja Malaysia, Sultan Muhammad V dari Kelantan.

Malaysia Kini melaporkan, Mahathir pertama kali menjadi perdana menteri pada 16 Juli 1981.

Ketika itu, dia masih berusia 56 tahun.

Dia kemudian meletakkan jabatan pada 31 Oktober 2003, atau setelah memerintah selama 22 tahun, dan menjadikannya sebagai perdana menteri dengan masa jabatan terlama di Malaysia.

Dengan usianya yang menapak 92 tahun, pemimpin koalisi oposisi Pakatan Harapan itu menjadi pemimpin terpilih tertua di dunia.

Dalam Pemilihan Umum (Pemilu) Rabu (9/5/2018), Pakatan Harapan keluar sebagai pemenang dengan meraup 122 dari 222 kursi parlemen.

Sementara Barisan Nasional, koalisi pimpinan perdana menteri sebelumnya Najib Razak hanya mendapatkan 79 kursi.

Hasil pemilu itu menjadi kekalahan perdana Barisan Nasional semenjak Malaysia merdeka, atau pada 60 tahun terakhir.

Salah satu aspek paling menentukan yang membuat comeback Mahathir begitu manis adalah rekonsiliasinya dengan mantan wakilnya, Anwar Ibrahim.

Anwar merupakan politisi yang digadang-gadang bakal menjadi suksesor Mahathir hingga dia didepak pada 2 September 1998 karena tersandung kasus sodomi.

Kemudian di 2013, Anwar kembali tersangkut tuduhan yang sama saat era Najib Razak.

Dia divonis lima tahun penjara, dan bakal bebas 8 Juni mendatang.

Raja Malaysia pun menurut Mahathir sudi untuk memberikan pengampunan penuh dan membebaskan Anwar. [b-islam24h.com / tribunnews]

Subscribe to receive free email updates: