Mahathir Pastikan Akan Usut Kasus Korupsi Najib Razak

Loading...

 Perdana Menteri Malaysia yang baru, Mahathir Mohamad, yakin dapat mengembalikan sebagian besar uang negara yang hilang dalam skandal korupsi 1MDB.

Skandal mengenai dana investasi negara 1Malaysian Berhad (1MDB) ini menyeret pendahulunya, Najib Razak, dan menjadi biang kerok kekalahannya yang mengejutkan dalam pemilu Malaysia.

"Kami percaya bahwa kita bisa mendapatkan sebagian besar uang 1MDB kembali," kata Mahathir seperti dikutip dari BBC, Jumat (11/5/2018).

Mantan orang kuat Malaysia itu kembali berkuasa pada usia 92 tahun setelah jeda 15 tahun. Ia keluar dari masa pensiunnya untuk menentang Najib, mantan sekutunya, karena skandal 1MDB menyeruak dua tahun lalu.

Najib dituduh mengantongi sekitar USD700 juta dana milik badan yang didirikannya tersebut. Namun ia dengan keras menyangkal tuduhan tersebut dan dibebaskan oleh otoritas Malaysia.

Meski begitu, dana tersebut masih diselidiki oleh sejumlah negara.

Dibentuk pada tahun 2009, 1MDB dimaksudkan untuk mengubah Ibu Kota Kuala Lumpur menjadi pusat keuangan dan meningkatkan ekonomi melalui investasi strategis.

Namun aroma busuk terhadap lembaga itu tercium pada awal 2015 setelah gagal melakukan pembayaran hutang kepada bank dan pemegang obligasi sebesar lebih dari USD 11 miliar.

Kemudian Wall Street Journal (WSJ) melaporkan telah melihat jejak transaksi hampir $ 700 juta dari dana tersebut yang setelah ditelusuri diduga mengalir ke rekening pribadi milik Najib.

Akhir tahun lalu, Jaksa Agung Amerika Serikat (AS) Jeff Sessions menggambarkan skandal itu sebagai "kleptokrasi yang paling buruk".

Pemerintah AS telah mencari cara untuk mengambil lebih dari USD 1,7 miliar aset yang diyakini telah dicuri dari dana tersebut.

Saat ditanya apakah pemerintahan baru yang dipimpinnya akan melakukan perubahan terhadap lembaga yang bertindak atas nama Najib, Mahathir menjawab: "Beberapa kepala harus jatuh."

"Kami harus meningkatkan kepercayaan investor kepada pemerintah," tegasnya. [b-islam24h.com / sindonews]

Subscribe to receive free email updates: